Samarinda — Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian hutan, empat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kalimantan Timur mengikuti Pelatihan Komunikasi dan Penjangkauan bagi LPHD pada 6–8 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Harris Samarinda ini difasilitasi oleh KBCF melalui program Himba Bestari dengan metode diskusi, presentasi, dan simulasi praktik.
Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan LPHD Lakan Bilem, Intu Lingau, Semuntai, dan Karangan Hilir, serta tim Field Officer (FO) dan Technical Officer (TO) KBCF. Kegiatan dibuka oleh Direktur KBCF, Mukti Ali, dengan fasilitator Ahmad Tsaqib dan Saparuddin. Sejumlah narasumber turut memberikan materi, di antaranya I Made Kertayasa dan Andri Prabowo.
Pelatihan bertujuan memperkuat kemampuan pengurus dan anggota LPHD dalam menyampaikan informasi mengenai hutan desa secara terstruktur, komunikatif, dan mudah dipahami masyarakat. Kemampuan tersebut dinilai penting agar masyarakat memahami keberadaan, fungsi, serta manfaat hutan desa dan terdorong untuk terlibat aktif dalam menjaga kelestariannya.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi mengenai penyusunan bahan sosialisasi, teknik public speaking, pengelolaan kelembagaan dan administrasi, serta pengenalan restorasi dan keanekaragaman hayati (biodiversity). Peserta juga mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi LPHD, mulai dari penyusunan laporan dan pengelolaan dokumen hingga koordinasi anggota serta pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Salah satu materi utama adalah penyusunan pesan sosialisasi berdasarkan lima pilar, yaitu hutan desa, manfaat hutan desa, peran LPHD, peran masyarakat, dan peran Program Himba Bestari. Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk menyampaikan informasi secara ringkas tanpa mengabaikan aspek penting dalam pengelolaan hutan desa.
Peserta kemudian mempraktikkan teknik berbicara di depan publik melalui simulasi individu dan kelompok. Praktik ini mencakup penyusunan pembukaan, isi, dan penutup (PIP), penggunaan hook untuk menarik perhatian audiens, pengaturan intonasi dan tempo suara, kontak mata, gestur tubuh, serta penyampaian ajakan bertindak. Simulasi juga mengangkat tema manfaat hutan desa, partisipasi masyarakat, dan potensi ekonomi dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Pada sesi restorasi dan keanekaragaman hayati, peserta turut membahas rencana kegiatan lanjutan, termasuk pemantauan biodiversitas, pemasangan camera trap, dan pengayaan kawasan restorasi sesuai dengan rencana masing-masing wilayah.

Sebagai tindak lanjut, peserta didorong menerapkan teknik komunikasi yang telah dipelajari dalam kegiatan sosialisasi di desa masing-masing. LPHD merencanakan sosialisasi melalui forum warga dengan sasaran 20–25 orang serta metode door-to-door (DTD) sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan. Peserta juga diminta melaporkan praktik komunikasi setiap bulan sebagai bagian dari evaluasi selama tiga bulan.
Melalui pelatihan ini, diharapkan LPHD semakin mampu menjadi penghubung antara program pelestarian hutan dan masyarakat. Dengan komunikasi yang efektif serta keterlibatan warga, upaya menjaga hutan desa diharapkan dapat berjalan lebih partisipatif dan memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat.