SEMUNTAI — Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Semuntai bekerja sama dengan Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) menyelenggarakan Pelatihan Standardisasi Instalasi dan Pengumpulan Data Lapangan Camera Trap. Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, pada 14 hingga 17 September 2026, ini digelar di Desa Semuntai, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Inisiatif ini diikuti oleh Tim Monitoring Biodiversitas LPHD Semuntai sebagai bagian dari Program Himba Bestari untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola serta melindungi kawasan hutan desa berbasis bukti ilmiah (evidence-based conservation).
Pelatihan ini diadakan untuk mentransformasi pemantauan keanekaragaman hayati dari metode tradisional menjadi pemantauan berbasis data terstruktur tanpa mengganggu keberadaan satwa (non-invasif). Melalui penggunaan camera trap (kamera pengintai otomatis bersensor gerak dan inframerah), tim dapat merekam jejak satwa kunci seperti Rangkong Gading, Trenggiling, dan Macan Dahan tanpa memicu stres pada hewan. Pemantauan ini sangat krusial untuk menjaga kesehatan ekosistem hutan desa sekaligus menjadi instrumen posisi tawar yang kuat dalam mempertahankan kedaulatan wilayah dari ancaman perusakan lingkungan.
Selama pelatihan, peserta dibekali materi teori, simulasi pengaturan alat, hingga praktik penjelajahan lapangan langsung di Hutan Desa Semuntai. Peserta dilatih mengidentifikasi tanda keberadaan satwa, menentukan titik pemasangan strategis (hotspot), mengalibrasi sudut kamera, serta mencatat metadata lapangan secara akurat. Dari hasil uji coba di lapangan, kamera yang dipasang berhasil mendokumentasikan penampakan Landak Raya (Porcupine), musang, dan beberapa jenis satwa kecil lainnya. Selain itu, evaluasi akhir (post-test) menunjukkan mayoritas peserta berhasil melampaui standar nilai 80%. Ke depan, hasil pelatihan ini akan dibukukan ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) Internal LPHD Semuntai dan dilanjutkan dengan pengoperasian penuh camera trap pada Oktober 2026 serta pelatihan manajemen database dan analisis data. "Memasang camera trap itu ada ilmunya, tidak bisa sembarangan diikat di pohon asal-asalan. Jika penempatannya acak tanpa mempertimbangkan mikrohabitat dan koridor pergerakan satwa, potensi kegagalan rekam (zero detection) sangat tinggi. Akibatnya, kita bisa salah menyimpulkan bahwa area tersebut sepi satwa, padahal kameranya yang salah pasang," — Tim Fasilitator Pelatihan KBCF.