BATU LEPOQ — Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Karangan Hilir bersama Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) dan UPTD KPHP Bengalon menggelar kegiatan Gladi Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada Rabu hingga Kamis, 8–9 Juli 2026, ini dilaksanakan di Resort KPHP Bengalon, Desa Batu Lepoq, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sebanyak 27 peserta yang terdiri dari pengelola LPHD Karangan Hilir dan tim Fire Prevention & Forest Patrol terlibat aktif dalam pelatihan terpadu ini.
Gladi posko ini diselenggarakan untuk memantapkan kesiapsiagaan, merapikan struktur komando regu, serta menguji respons cepat warga dalam mengendalikan ancaman kebakaran hutan dan lahan sejak jam-jam pertama. Pendekatan ini berpatokan pada prinsip bahwa pencegahan jauh lebih murah, mudah, dan efektif dibandingkan pemadaman saat api sudah membesar. Selain itu, kegiatan ini diisi dengan penguatan kelembagaan melalui pemilihan pengurus inti Masyarakat Peduli Api (MPA) Karangan Hilir secara partisipatif, yang menetapkan Natalino Reles Parel sebagai Ketua MPA.
Rangkaian pelatihan menggabungkan pembekalan teori kelembagaan, penggunaan teknologi pemetaan digital QField, teknik uji fisik kelembapan serasah (Uji Remas Daun), hingga simulasi pemadaman mekanis menggunakan mesin pompa air (alkon). Peserta juga digembleng menguasai 11 kode komando isyarat tangan untuk mengatasi kendala komunikasi akibat suara bising mesin di lapangan. Simulasi ditutup dengan kompetisi pemadaman mekanis antar-regu, di mana Regu 2 menjadi regu peserta LPHD terbaik dengan catatan waktu 15 menit, disusul Regu 1 selama 18 menit. Ke depan, LPHD Karangan Hilir dan KBCF berkomitmen menindaklanjuti kegiatan ini lewat pengusulan SK legalitas MPA, patroli rutin berbasis QField, latihan drill komando bulanan, serta edukasi pencegahan Karhutla kepada masyarakat peladang.
"LPHD Karangan Hilir selama ini sudah sangat aktif berpatroli. Tapi agar aksi di lapangan makin efektif, warga butuh struktur organisasi dan sistem komando yang solid. Kuncinya ada pada kesiapan regu untuk bergerak cepat dan terkoordinasi pada jam-jam pertama setelah titik api terdeteksi," — Nasrudin Alamsyah, S.Hut., M.Si. (Kepala UPTD KPHP Bengalon).
"Satelit memang canggih, tapi tangan warga adalah instrumen paling akurat untuk mengukur seberapa kering serasah di lantai hutan," — Instruktur Pelatihan KPHP Bengalon.