KUTAI BARAT — Produktivitas dan mutu Bahan Olah Karet (Bokar) rakyat sangat dipengaruhi oleh ketepatan teknik penyadapan sejak tahap awal. Guna menjaga daya saing dan kelestarian tanaman, program Himba Bestari menyelenggarakan Sekolah Lapang bertema "Identifikasi Pohon Karet Siap Sadap" di Kampung Lakan Bilem, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan edukatif ini berpusat di dua titik utama, yakni Kantor Petinggi Kampung Lakan Bilem untuk sesi pemaparan materi teori dan diskusi, serta lokasi kebun karet milik warga setempat sebagai area praktik lapangan.
Pelatihan ini digelar untuk mengatasi tantangan rendahnya mutu karet rakyat akibat kebiasaan petani yang belum menerapkan standar Good Handling Practices (GHP). Penyadapan pada pohon yang belum memenuhi kriteria teknis—seperti ukuran keliling batang, kondisi kulit, hingga kesehatan tajuk—berisiko merusak jaringan tanaman secara permanen dan menurunkan produksi getah. Oleh karena itu, sekolah lapang ini diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas teknis para petani dalam mengenali indikator pohon siap sadap secara tepat. Pelatihan ini diikuti oleh 21 peserta yang terdiri dari 15 laki-laki dan 6 perempuan dari unsur petani aktif, tokoh masyarakat, pemerintah kampung, dan pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD).
Dipandu oleh instruktur Pilipus Hivung dan Adrianus Tanis, rangkaian acara diawali dengan sambutan dari perwakilan LPHD Yosianus Moja dan Petinggi Kampung Lakan Bilem Sukran. Peserta dibekali pemahaman materi mengenai dampak teknik penyadapan dan indikator fisik tanaman, dilanjutkan dengan simulasi visual serta analisis studi kasus dalam kelompok. Memasuki sesi praktik di kebun demplot, seluruh peserta digembleng secara mandiri untuk mengukur lingkar batang (minimal keliling 50–51 cm pada tinggi 100 cm), mengamati ketebalan dan tekstur kulit, menilai kelestarian daun, serta mendeteksi adanya serangan penyakit seperti jamur akar.
Metode action learning ini terbukti sukses mendongkrak pemahaman teknis dan keterampilan para peserta. Sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL), Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) bersama LPHD dan Pemerintah Kampung Lakan Bilem sepakat membangun fasilitas ruang belajar di area demplot, memetakan kebun karet warga, serta merancang Sekolah Lapang lanjutan yang akan berfokus pada teknik pemupukan dan penggunaan bahan perangsang getah karet secara aman.